Perubahan baru dalam pemilihan pemimpin terjadi pada tahun 2015. Dimana seorang pemimpin kepala daerah di sebagian besar wilayah Indonesia dilakukan secara serentak. Publik juga sering kali menunggu hasil hitung cepat (Quick Count) dari calon yang diusung. Walaupun pada kenyataanya hasil tetap berada dibawah wewenang KPUD wilayahnya. Makalah ini berusaha menganalisis scara framing dengan menggunakan parameter menurut V.Sigal dari pemberitaan pasangan Airin – Benyamin yang merupakan calon Walikota dan Wakil Walikota Tangerang Selatan tahun 2015. Media massa merupakan pihak yang seharusnya memiliki sikap netral. Namun dewasa ini sudah tidak asing lagi jika pemberitaan yang ada di media mengandung suatu unsur kepentingannya masing-masing. Seperti pada pemberitaan mengenai pasangan Airin Benyamin dalam Pilkada Tangerang Selatan tahun 2015, penulis ingin memetakan dimana posisi media online Detik.com dalam publikasi permasalahan tersebut. Dalam hal ini penulis menggunakan media online dikarenakan di era digital sekarang penuh persaingan yang tak dibatasi jarak. Dengan metode Analisis framing dan analisis isi media massa dengan parameter V.Sigal ini penulis menyimpulkan bahwa pada pemberitaan pasangan Airin – Benyamin, pada Pilkada Tangerang Selatan tahun 2015,
cenderung pihak Detik.com sebagai media online yang tidak berpihak terhadap pasangan nomor urut 3 tersebut.
Link jurnal.
cenderung pihak Detik.com sebagai media online yang tidak berpihak terhadap pasangan nomor urut 3 tersebut.
Link jurnal.



