Tulisan ini
adalah dedikasi 68 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Jika diibaratkan
seorang manusia, mungkin sudah menjadi “mbah”, sudah mulai menggendong cucu, dan
menikmati masa tuanya dari hasil jerih payah si mbah pada masa muda. Mbah
tinggal memetik dari hasil usahanya ataupun menikmati uang pensiun untuk
kegiatan ringan. Berkebun, memancing, menyulam, dan kegiatan menyenangkan
lainnya. Indah bukan? Mungkin termasuk
pada cita-cita kita di masa tua nanti.
Baiklah, itu
adalah pengibaratan seorang manusia pada usia 68 tahun. Sekarang kita lihat
pada Indonesia, usia 68 tahun apa yang dinikmati di negeri gemah ripah loh jinawi ini.
Indonesia Bangsa Yang Kaya
Siapa yang tidak
sepakat bumi pertiwi ini mempunyai kekayaan alam yang sangat berlimpah? Siapa
yang tidak sepakat negera kepulauan terbesar di dunia ini mempunyai keindahan
alam yang luar biasa? Dan siapa yang
tidak sepakat bahwa jumlah penduduk Indonesia masih menduduki
peringkat-peringkat atas terbanyak di dunia? Jika
ada, patut untuk direkomendasikan untuk jelajah alam Indonesia. Karena mungkin
kita, termasuk saya adalah orang yang sepakat Indonesia adalah Negara kaya.
Oke, kesepakatan
Indonesia sebagai Negara kaya bila kita lihat dari alam dan penduduknya mungkin
tidak ada yang membantah. Penduduk yang sekian ratus juta jiwa dan kekayaan
alam yang melimpah. Itu merupakan kekayaan yang dinilai dari segi kuantitas,
atau dari jumlahnya. Dari sisi kualitas? Masih banyak yang memberikan tanda
tanya besar.
Saya disini
tidak ingin membahas panjang lebar tentang kurangnya kualitas bangsa Indonesia
sehingga sampai detik ini “belum” menjadi Negara kaya. Ya, saya tekankan disini
pada kata “belum”, karena kita masih punya harapan. Dengan segala kekurangan-kekurangan
yang dimiliki bangsa yang besar ini, mari kita refleksi diri pada 68 tahun yang
silam.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para
pahlawannya (Ir.Soekarno)
“Sudah merdeka selama 68 tahun tapi kenapa Indonesia bisa
begini?”
Pertanyaan
itu yang pernah saya lontarkan pada orang tua. Beruntunglah kini sudah saya
dapatkan jawabannya dari Ir.Soekarno dalam pesannya beberapa waktu silam kepada
bangsa Indonesia. Bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa
para pahlawannya”. Apa kita sudah cukup menghargai jasa pahlawan? Atau mungkin
saya juga temasuk kedalam penerus bangsa yang kurang menghargai jasa pahlawan.
Jika ditanya siapa diantara kita yang
tidak kenal dengan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Jendral Sudirman, dan
nama-nama pahlawan yang memenuhi buku sejarah kita di masa sekolah dan kini
menjadi nama-nama jalan protocol di kota-kota. Tapi coba siapa diantara kita
yang mengenal Ahmad Subarjo, Latif Hendraningrat, S. Suhud, dan Ilyas Salim.
Mungkin ada sebagian yang mulai mengerutkan kening, atau coba ingin mencari di
Google. Silakan. Karena mereka adalah tokoh proklamasi dan pengibar bendera
pusaka pertama kali sesaat setelah Proklamasi dibacakan.
Coba satu kali
lagi, mari ingat-ingat siapa diantara kita apa yang tahu Kamidjo? Beliau adalah
pahlawan hebat di masa perjuangaan Indonesia. Pahlawan asal Yogyakarta,
provinsi istimewa yang pernah menjadi ibu kota Indonesia. Belum ada yang tahu? Baiklah,
Kamidjo adalah pahlawan dari pihak tentara, dan dia adalah kakek saya. Owalah, kirain siapa toh! Ya! Beliau adalah kakek saya yang telah wafat, beliau
adalah anumerta.
Mungkin ada
sedikit senyuman lucu setelah mengetahui siapa itu Kamidjo. Yang ternyata
adalah kakek saya. Tapi beliau benar merupakan seorang pejuang kemerdekaan. Ini
bukan candaan atau sekedar pepesan kosong pesan hut RI. Saya memang tidak cukup beruntung untuk
bertemu langsung dengan beliau. Karena beliau telah wafat saat saya masih dalam
kandungan.
Cerita tentang
beliau saya dapatkan dari ayah saya. Jika kita melihat tentara di jaman
sekarang, visualisasi kita disajikan oleh pasukan kekar, tinggi, cepak, tegap
dengan lengan-lengan besar. Senjata modern serta pelindung yang serba lengkap.
Dan ini sangat berbanding terbalik dengan kakek saya.
Beliau bertubuh kecil,
dengan persenjataan seadanya. Tapi jika kita bandingkan dengan nyali dan
keberanian, mungkin beliau adalah pemenangnya. Nyali beliau beserta teman-teman
seperjuangannya pada saat itu yang mengantarkan kemerdekaan Indonesia. Beliau
bisa nekat perang jika dibakar semangatnya dengan hanya mendengar terikkan
pidato Bung Karno.
Beliau
pernah terkena senjata api yang ditembakkan oleh penjajah dan sempat bersarang
di bagian tubuhnya. Namun ketika telah pulih, beliau tidak ragu untuk turun
kembali berperang guna meraih cita-cita besar bangsa Indonesia, kemerdekaan
yang sesungguhnya.
Pejuang Kemerdekaan dan Pejuang Kejujuran
Sewajarnya
pejuang-pejuang yang lainnya, kakek ku sering mengikuti peperangan. Ada seorang
sanak keluarga yang pernah berpesan kepada beliau, bahwa selama masa
peperangan, jangan ambil yang bukan milik sendiri. Dan kakek ku sangat ingat
akan pesan tersebut.
Pada suatu peperangan yang berhasil
memukul mundur penjajah, kakek ku beserta kawan-kawannya menemukan penyimpanan
emas batangan yang ditinggalkan penjajah. Emas batangan itu awalnya tidak
nampak, karena dilapisi oleh timah. Namun, ketika lapisannya digosok, akan
terlihat emas yang asli di bagian dalamnya.
Hasrat ingin membawa pulang salah
satu logam mulia tersebut sempat muncul di benak kakek ku. Namun beliau
teringat pesan yang pernah disampaikan untuk tidak mengambil yang bukan haknya.
Dengan demikian beliau urungkan niatnya.
Mungkin diantara kita ada yang
berfikir “Hah? Sumpe lo? Yah.. sayang
banget!”.
“Trus gue harus bilang Wow gitu?” nyinyir sedikit ya.
Ya,
memang sayang sekali. Karena memang jaman saat itu juga makan saja susah, apa
lagi untuk memiliki emas, rasanya tidak mungkin. Tapi yang anehnya, ada teman
seperjuangan beliau yang membawa emas batangan tersebut ke rumah. Memang benar,
bisa langsung jadi OKB, alias Orang Kaya Baru.
Tapi
sesaat setelah selesai peperangan yang berujung pada penemuan emas tersebut,
kakinya tertembak senjata api. Hingga akhirnya mengakibatkan lumpuh. Walaupun
sudah mempunyai banyak harta dari hasil emas yang didapatkannya, tapi orang
tersebut tidak bisa menikmati hidup sesungguhnya.
Entah ada hubungan atau tidak antara
emas batangan tersebut dengan lumpuhnya orang itu. Tapi yang pasti disini saya
belajar banyak mengenai prinsip kejujuran. Lebih baik menikmati hasil
perjuangan sendiri dan berkah, dari pada merampas dan tidak berkah.
Awalnya saya
sedih karena tidak berkesempatan
bertemu dengan beliau. Tapi setelah saya tumbuh makin dewasa, pikiran saya
berubah penuh. Saya bersyukur karena beliau telah wafat sekitar 25 tahun yang
lalu. Karena jika melihat mantan pejuang kemerdekaan yang masih hidup saat ini,
tidak lebih baik dari pada ekspatriat
yang jadi bos-bos perusahaan asing.
Kenapa demikian? Mari kita merenung untuk beberapa tahun
ke depan. Apa yang akan kita lakukan nanti saat anak cucu kita kelak minta
diajarkan menyanyi lagu-lagu kebangsaan? Apa yang kita lakukan jika kelak anak
cucu kita minta dijelaskan makna Proklamasi dan isi dari Pancasila? Lalu apa
kita hanya bisa menjawab, “Ayo belajar dan tanya sama guru di sekolah mu.”
Kalau kata pengguna twitter langsung hastag
#TepokJidatTetangga.
Pertanyaan itu mungkin belum
seberapa, karena jawabannya bisa ditemukan di mbah Google. Tapi bagaimana jika pertanyaannya, apa makna
proklamasi untuk mama/papa? Makna kemerdekaan? It’s time to putar otak dan mulai mengarang bebas untuk jawab!
Dengan mempelajari dan menghormati
jasa pahlawan kemerdekaan mungkin kita jauh lebih baik dari keadaan saat ini.
Karena rasa cinta kepada tanah air gak akan membuat kita mau terjajah di tanah
air sendiri.
Kan sudah merdeka 68 tahun yang lalu..
kok masih bilang di jajah sih?
Coba
lihat aja peta perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, sebagian besar
sahamnya merupakan milik asing. Oh NO!!
Lalu kita punya apa?? Tenang.. tenang.. kita masih punya bahan-bahan mentah
yang bisa di ekspor ke luar negeri seperti bambu, kayu, dan lain-lain. Tapi
sayangnya kita mengekspor bahan mentah, diluar negeri di olah menjadi barang
siap pakai, dan dipasarkan lagi di Indonesia. Hastag lagi #miris.
Kalau
saja kakek ku masih ada mungkin beliau akan sangat marah dan kecewa. Tanah air
yang beliau taruhkan dengan nyawa, kini diberikan pada kumpeni-kumpeni untuk menikmati. Bendera yang beliau tukar dengan
darahnya kini hanya jadi penghias beberapa hari di bulan Agustus. Lepasnya
Timor Timur, penjajahan tambang emas yang luar biasa di Irian, pengakuan budaya
Indonesia oleh negara tetangga, dan masih banyak lagi yang lainnya. Belum lagi
pemuda pemudinya lebih bangga untuk menyenangi budaya asing dari pada budaya
Indonesia. Cukuplah itu semua bisa membuat beliau menangis kecewa. Ada satu
gambar yang ingin saya perlihatkan.
Entah gambar ini
hasil jepretan siapa, dan entah siapa nama tokoh yang berada dalam foto
tersebut. Yang saya lihat hanya sikap pemberani, ikhlas, dan sederhana.
Sepertinya tidak perlu dijabarkan secara detail makna dari gambar tersebut,
karena lagi-lagi kita hanya dibuat miris. Benar kata sang pujangga, satu gambar
bisa menceritakan lebih baik dari pda jutaan kata-kata.
“Miris ya? Lalu kita harus berbuat apa?”
Mari
coba kita lihat lirik lagu “Ibu Pertiwi” yang cukup menggugah hati:
Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intan yang kau kenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Ku lihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
Sudah menggugah hati?
Jika belum, coba dengarkan lagunya secara langsung. Berkali-kali mendengar
lagunya, tapi selalu sanggup menbuat bulu kuduk saya berdiri. Bukan karena
horor, tapi karena lagu ini seperti lagu titipan dari suara hati para pejuang.
Pejuang disini bukan hanya
orang-orang yang selalu meramaikan di buku-buku sejarah. Tapi juga nama-nama
yang tenggelam bersama gugurnya mereka demi kemerdekaan Indonesia. Termasuk
mendiang kakek ku. Dalam satu kesempatan, saya menulis satu puisi sederhana
dalam note account Facebook pribadi
saya. Sebagai akhir cerita ini, saya tulis kembali. Semoga kita dapat lebih
mengingat dan menghormati jasa pahlawan.
KAKEK KU SEORANG ANUMERTA
Aku tak cukup
beruntung bertemu dengan kakek ku, (karena beliau sudah wafat sebelum aku lahir)
Tapi aku
punya banyak cerita tentang beliau dari ayahanda ku tersayang
Kakek ku
adalah seorang tentara pejuang kemerdekaan
Dia sosok yang sangat sederhana
Pria yang
pernah merasakan peluru masuk ke kakinya itu tidak pernah menyakiti
anak-anaknya
Tapi jika
sdh menghadapi penjajah, dia tak kan gentar melempar senjatanya
Kakek ku
bertubuh kecil, tapi punyai nyali besar
Orang yang
disegani, tapi tetap rendah hati
Orang yang tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan
Orang yang pertama kali menepuk dada saat kata Indonesia
disebutkan
Orang yang
pertama kali angkat senjata saat bunyi genderang perang
Orang yang pertama kali pasang badan saat tentara datang
Orang yang berdiri di barisan terdepan saat kontak senjata
dimulai
Orang yang
pertama kali tepuk tangan saat sang Proklamator negeri ini naik ke podium
Orang yang
segera hormat dengan tegap berdiri saat sang merah putih dikibarkan dan lagu
Indonesia Raya dinyanyikan
Tapi dia
jugalah orang yang sedih jk melihat sang dwi warna diturunkan..
dan mungkin sekarang
adalah orang yang pertama menitikkan air mata saat timor timur lepas dari ibu
pertiwi
MERDEKA ATAU MATI!!! Benar-benar sudah melekat di sanubarinya
Aku cinta Indonesia, karena aku cinta kakek ku yang seorang pahlawan
Aku cinta
Indonesia, karena di tanah ini kakek ku sudah menumpahkan darahnya
Aku cinta
Indonesia, karena kakek ku adalah seorang anumerta yang membanggakan