Wednesday, February 21, 2018

PENYALAHGUNAAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI ALAT PROPAGANDA

oleh. Rety Palupi

Abstrak

Perubahan informasi dalam komunikasi terus terjadi seiring dengan kemajuan teknologi di era digital. Dimana setiap orang mampu mengerjakan profesi jurnalisme sekalipun ia tidak pernah belajar dasar jurnalistik tersebut. Publik juga sering kali mendapatkan informasi atau berita yang mengundang heran dan bernilai fantastis. Mulai dari ancaman bencana hingga informasi seputar dunia politik. Hanya saja kini sudah sering kali ditemukan informasi yang tersebar di tangan warganet merupakan informasi bohong (hoax) bahkan ujaran kebencian (hate speech). Walaupun pada kenyataanya pihakpihak pemerintah sudah berupaya keras mengurangi penyebaran berita hoax dan hate speech. Maka disinilah penulis menyusun tulisan ini guna menginformasikan unsur propaganda pada berita-berita hoax atau hate speech. Dalam hal ini penulis menggunakan media sosial dikarenakan di era digital sekarang media sosial lah yang paling rawan dalam penyebaran berita hoax dan hate speech. Dengan metode Analisis isi kualitatif ini penulis membahas 5 berita hoax dan hate speech yang dibedah menggunakan sembilan praktik propaganda. Kesimpulan yang didapatkan penulis adalah bahwa berita hoax ataupun hate speech lebih utama mengandung unsur melebih-lebihkan, retorika, pengakuan dan mempengaruhi pihak tertentu, serta kecurigaan yang disertai emosi.


Kata Kunci: media sosial, hoax, hate speech, propaganda
Link Jurnal

Monday, September 4, 2017

Perubahan baru dalam pemilihan pemimpin terjadi pada tahun 2015. Dimana seorang pemimpin kepala daerah di sebagian besar wilayah Indonesia dilakukan secara serentak. Publik juga sering kali menunggu hasil hitung cepat (Quick Count) dari calon yang diusung. Walaupun pada kenyataanya hasil tetap berada dibawah wewenang KPUD wilayahnya. Makalah ini berusaha menganalisis scara framing dengan menggunakan parameter menurut V.Sigal dari pemberitaan pasangan Airin – Benyamin yang merupakan calon Walikota dan Wakil Walikota Tangerang Selatan tahun 2015. Media massa merupakan pihak yang seharusnya memiliki sikap netral. Namun dewasa ini sudah tidak asing lagi jika pemberitaan yang ada di media mengandung suatu unsur kepentingannya masing-masing. Seperti pada pemberitaan mengenai pasangan Airin Benyamin dalam Pilkada Tangerang Selatan tahun 2015, penulis ingin memetakan dimana posisi media online Detik.com dalam publikasi permasalahan tersebut. Dalam hal ini penulis menggunakan media online dikarenakan di era digital sekarang penuh persaingan yang tak dibatasi jarak. Dengan metode Analisis framing dan analisis isi media massa dengan parameter V.Sigal ini penulis menyimpulkan bahwa pada pemberitaan pasangan Airin – Benyamin, pada Pilkada Tangerang Selatan tahun 2015,
cenderung pihak Detik.com sebagai media online yang tidak berpihak terhadap pasangan nomor urut 3 tersebut.
Link jurnal.

Friday, September 19, 2014

Tulisan ini adalah dedikasi 68 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Jika diibaratkan seorang manusia, mungkin sudah menjadi “mbah”, sudah mulai menggendong cucu, dan menikmati masa tuanya dari hasil jerih payah si mbah pada masa muda. Mbah tinggal memetik dari hasil usahanya ataupun menikmati uang pensiun untuk kegiatan ringan. Berkebun, memancing, menyulam, dan kegiatan menyenangkan lainnya. Indah  bukan? Mungkin termasuk pada cita-cita kita di masa tua nanti.

Baiklah, itu adalah pengibaratan seorang manusia pada usia 68 tahun. Sekarang kita lihat pada Indonesia, usia 68 tahun apa yang dinikmati di negeri gemah ripah loh jinawi ini.


Indonesia Bangsa Yang Kaya


Siapa yang tidak sepakat bumi pertiwi ini mempunyai kekayaan alam yang sangat berlimpah? Siapa yang tidak sepakat negera kepulauan terbesar di dunia ini mempunyai keindahan alam yang luar biasa? Dan siapa yang tidak sepakat bahwa jumlah penduduk Indonesia masih menduduki peringkat-peringkat atas terbanyak di dunia? Jika ada, patut untuk direkomendasikan untuk jelajah alam Indonesia. Karena mungkin kita, termasuk saya adalah orang yang sepakat Indonesia adalah Negara kaya.
Oke, kesepakatan Indonesia sebagai Negara kaya bila kita lihat dari alam dan penduduknya mungkin tidak ada yang membantah. Penduduk yang sekian ratus juta jiwa dan kekayaan alam yang melimpah. Itu merupakan kekayaan yang dinilai dari segi kuantitas, atau dari jumlahnya. Dari sisi kualitas? Masih banyak yang memberikan tanda tanya besar.
Saya disini tidak ingin membahas panjang lebar tentang kurangnya kualitas bangsa Indonesia sehingga sampai detik ini “belum” menjadi Negara kaya. Ya, saya tekankan disini pada kata “belum”, karena kita masih punya harapan. Dengan segala kekurangan-kekurangan yang dimiliki bangsa yang besar ini, mari kita refleksi diri pada 68 tahun yang silam.





Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya (Ir.Soekarno)


“Sudah merdeka selama 68 tahun tapi kenapa Indonesia bisa begini?”
Pertanyaan itu yang pernah saya lontarkan pada orang tua. Beruntunglah kini sudah saya dapatkan jawabannya dari Ir.Soekarno dalam pesannya beberapa waktu silam kepada bangsa Indonesia. Bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Apa kita sudah cukup menghargai jasa pahlawan? Atau mungkin saya juga temasuk kedalam penerus bangsa yang kurang menghargai jasa pahlawan.
Jika ditanya siapa diantara kita yang tidak kenal dengan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Jendral Sudirman, dan nama-nama pahlawan yang memenuhi buku sejarah kita di masa sekolah dan kini menjadi nama-nama jalan protocol di kota-kota. Tapi coba siapa diantara kita yang mengenal Ahmad Subarjo, Latif Hendraningrat, S. Suhud, dan Ilyas Salim. Mungkin ada sebagian yang mulai mengerutkan kening, atau coba ingin mencari di Google. Silakan. Karena mereka adalah tokoh proklamasi dan pengibar bendera pusaka pertama kali sesaat setelah Proklamasi dibacakan.
Coba satu kali lagi, mari ingat-ingat siapa diantara kita apa yang tahu Kamidjo? Beliau adalah pahlawan hebat di masa perjuangaan Indonesia. Pahlawan asal Yogyakarta, provinsi istimewa yang pernah menjadi ibu kota Indonesia. Belum ada yang tahu? Baiklah, Kamidjo adalah pahlawan dari pihak tentara, dan dia adalah kakek saya. Owalah, kirain siapa toh! Ya! Beliau adalah kakek saya yang telah wafat, beliau adalah anumerta.
Mungkin ada sedikit senyuman lucu setelah mengetahui siapa itu Kamidjo. Yang ternyata adalah kakek saya. Tapi beliau benar merupakan seorang pejuang kemerdekaan. Ini bukan candaan atau sekedar pepesan kosong pesan hut  RI. Saya memang tidak cukup beruntung untuk bertemu langsung dengan beliau. Karena beliau telah wafat saat saya masih dalam kandungan.
Cerita tentang beliau saya dapatkan dari ayah saya. Jika kita melihat tentara di jaman sekarang, visualisasi kita disajikan oleh pasukan kekar, tinggi, cepak, tegap dengan lengan-lengan besar. Senjata modern serta pelindung yang serba lengkap. Dan ini sangat berbanding terbalik dengan kakek saya.
Beliau bertubuh kecil, dengan persenjataan seadanya. Tapi jika kita bandingkan dengan nyali dan keberanian, mungkin beliau adalah pemenangnya. Nyali beliau beserta teman-teman seperjuangannya pada saat itu yang mengantarkan kemerdekaan Indonesia. Beliau bisa nekat perang jika dibakar semangatnya dengan hanya mendengar terikkan pidato Bung Karno.
Beliau pernah terkena senjata api yang ditembakkan oleh penjajah dan sempat bersarang di bagian tubuhnya. Namun ketika telah pulih, beliau tidak ragu untuk turun kembali berperang guna meraih cita-cita besar bangsa Indonesia, kemerdekaan yang sesungguhnya.



Pejuang Kemerdekaan dan Pejuang Kejujuran


Sewajarnya pejuang-pejuang yang lainnya, kakek ku sering mengikuti peperangan. Ada seorang sanak keluarga yang pernah berpesan kepada beliau, bahwa selama masa peperangan, jangan ambil yang bukan milik sendiri. Dan kakek ku sangat ingat akan pesan tersebut.
            Pada suatu peperangan yang berhasil memukul mundur penjajah, kakek ku beserta kawan-kawannya menemukan penyimpanan emas batangan yang ditinggalkan penjajah. Emas batangan itu awalnya tidak nampak, karena dilapisi oleh timah. Namun, ketika lapisannya digosok, akan terlihat emas yang asli di bagian dalamnya.
            Hasrat ingin membawa pulang salah satu logam mulia tersebut sempat muncul di benak kakek ku. Namun beliau teringat pesan yang pernah disampaikan untuk tidak mengambil yang bukan haknya. Dengan demikian beliau urungkan niatnya.
            Mungkin diantara kita ada yang berfikir “Hah? Sumpe lo? Yah.. sayang banget!”.
“Trus gue harus bilang Wow gitu?” nyinyir sedikit ya.
Ya, memang sayang sekali. Karena memang jaman saat itu juga makan saja susah, apa lagi untuk memiliki emas, rasanya tidak mungkin. Tapi yang anehnya, ada teman seperjuangan beliau yang membawa emas batangan tersebut ke rumah. Memang benar, bisa langsung jadi OKB, alias Orang Kaya Baru.
Tapi sesaat setelah selesai peperangan yang berujung pada penemuan emas tersebut, kakinya tertembak senjata api. Hingga akhirnya mengakibatkan lumpuh. Walaupun sudah mempunyai banyak harta dari hasil emas yang didapatkannya, tapi orang tersebut tidak bisa menikmati hidup sesungguhnya.
            Entah ada hubungan atau tidak antara emas batangan tersebut dengan lumpuhnya orang itu. Tapi yang pasti disini saya belajar banyak mengenai prinsip kejujuran. Lebih baik menikmati hasil perjuangan sendiri dan berkah, dari pada merampas dan tidak berkah.





Penjajahan Modern


Awalnya saya sedih karena tidak berkesempatan bertemu dengan beliau. Tapi setelah saya tumbuh makin dewasa, pikiran saya berubah penuh. Saya bersyukur karena beliau telah wafat sekitar 25 tahun yang lalu. Karena jika melihat mantan pejuang kemerdekaan yang masih hidup saat ini, tidak lebih baik dari pada ekspatriat yang jadi bos-bos perusahaan asing.
            Kenapa demikian? Mari kita merenung untuk beberapa tahun ke depan. Apa yang akan kita lakukan nanti saat anak cucu kita kelak minta diajarkan menyanyi lagu-lagu kebangsaan? Apa yang kita lakukan jika kelak anak cucu kita minta dijelaskan makna Proklamasi dan isi dari Pancasila? Lalu apa kita hanya bisa menjawab, “Ayo belajar dan tanya sama guru di sekolah mu.” Kalau kata pengguna twitter langsung hastag #TepokJidatTetangga.
            Pertanyaan itu mungkin belum seberapa, karena jawabannya bisa ditemukan di mbah Google. Tapi bagaimana jika pertanyaannya, apa makna proklamasi untuk mama/papa? Makna kemerdekaan? It’s time to putar otak dan mulai mengarang bebas untuk jawab!
            Dengan mempelajari dan menghormati jasa pahlawan kemerdekaan mungkin kita jauh lebih baik dari keadaan saat ini. Karena rasa cinta kepada tanah air gak akan membuat kita mau terjajah di tanah air sendiri.



            Kan sudah merdeka 68 tahun yang lalu.. kok masih bilang di jajah sih?



Coba lihat aja peta perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, sebagian besar sahamnya merupakan milik asing. Oh NO!! Lalu kita punya apa?? Tenang.. tenang.. kita masih punya bahan-bahan mentah yang bisa di ekspor ke luar negeri seperti bambu, kayu, dan lain-lain. Tapi sayangnya kita mengekspor bahan mentah, diluar negeri di olah menjadi barang siap pakai, dan dipasarkan lagi di Indonesia. Hastag lagi #miris.



***


Kalau saja kakek ku masih ada mungkin beliau akan sangat marah dan kecewa. Tanah air yang beliau taruhkan dengan nyawa, kini diberikan pada kumpeni-kumpeni untuk menikmati. Bendera yang beliau tukar dengan darahnya kini hanya jadi penghias beberapa hari di bulan Agustus. Lepasnya Timor Timur, penjajahan tambang emas yang luar biasa di Irian, pengakuan budaya Indonesia oleh negara tetangga, dan masih banyak lagi yang lainnya. Belum lagi pemuda pemudinya lebih bangga untuk menyenangi budaya asing dari pada budaya Indonesia. Cukuplah itu semua bisa membuat beliau menangis kecewa. Ada satu gambar yang ingin saya perlihatkan.




Entah gambar ini hasil jepretan siapa, dan entah siapa nama tokoh yang berada dalam foto tersebut. Yang saya lihat hanya sikap pemberani, ikhlas, dan sederhana. Sepertinya tidak perlu dijabarkan secara detail makna dari gambar tersebut, karena lagi-lagi kita hanya dibuat miris. Benar kata sang pujangga, satu gambar bisa menceritakan lebih baik dari pda jutaan kata-kata.
“Miris ya? Lalu kita harus berbuat apa?”
Mari coba kita lihat lirik lagu “Ibu Pertiwi” yang cukup menggugah hati:



Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intan yang kau kenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Ku
lihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

           


Sudah menggugah hati? Jika belum, coba dengarkan lagunya secara langsung. Berkali-kali mendengar lagunya, tapi selalu sanggup menbuat bulu kuduk saya berdiri. Bukan karena horor, tapi karena lagu ini seperti lagu titipan dari suara hati para pejuang.
            Pejuang disini bukan hanya orang-orang yang selalu meramaikan di buku-buku sejarah. Tapi juga nama-nama yang tenggelam bersama gugurnya mereka demi kemerdekaan Indonesia. Termasuk mendiang kakek ku. Dalam satu kesempatan, saya menulis satu puisi sederhana dalam note account Facebook pribadi saya. Sebagai akhir cerita ini, saya tulis kembali. Semoga kita dapat lebih mengingat dan menghormati jasa pahlawan.






KAKEK KU SEORANG ANUMERTA

Aku tak cukup beruntung bertemu dengan kakek ku, (karena beliau sudah wafat sebelum aku lahir)
Tapi aku punya banyak cerita tentang beliau dari ayahanda ku tersayang

Kakek ku adalah seorang tentara pejuang kemerdekaan
Dia sosok yang sangat sederhana

Pria yang pernah merasakan peluru masuk ke kakinya itu tidak pernah menyakiti anak-anaknya
Tapi jika sdh menghadapi penjajah, dia tak kan gentar melempar senjatanya

Kakek ku bertubuh kecil, tapi punyai nyali besar
Orang yang disegani, tapi tetap rendah hati
Orang yang tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan
Orang yang pertama kali menepuk dada saat kata Indonesia disebutkan
Orang yang pertama kali angkat senjata saat bunyi genderang perang
Orang yang pertama kali pasang badan saat tentara datang
Orang yang berdiri di barisan terdepan saat kontak senjata dimulai
Orang yang pertama kali tepuk tangan saat sang Proklamator negeri ini naik ke podium
Orang yang segera hormat dengan tegap berdiri saat sang merah putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan
Tapi dia jugalah orang yang sedih jk melihat sang dwi warna diturunkan.. 
dan mungkin sekarang adalah orang yang pertama menitikkan air mata saat timor timur lepas dari ibu pertiwi

MERDEKA ATAU MATI!!! Benar-benar sudah melekat di sanubarinya

Aku cinta Indonesia, karena aku cinta kakek ku yang seorang pahlawan
Aku cinta Indonesia, karena di tanah ini kakek ku sudah menumpahkan darahnya

Aku cinta Indonesia, karena kakek ku adalah seorang anumerta yang membanggakan
Entah sudah berapa lama saya mau punya sepeda. Saya mau keliling pakai sepeda. kayaknya keren dan seru aja. Ramah lingkungan pula!!! Karena sudah dijamin gak pake BBM yang jumlahnya makin menipis itu dan tidak ada polusi udara dari asap yang warnanya udah gak karuan lagi.
Gowes di Pertanian
Stelah searching dari beberapa situs sepeda.. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepeda Polygon Cleo 3.0. Saya niat membeli di outlet resmi Polygon, dapatlah di Rodalink Margonda Depok. Perlu diperhatikan, bagi pemula yang mau beli sepeda untuk diajak jalan jauh, lebih baik carilah sepeda memang yang sudah mempunyai nama yang baik. Bukan sepeda yang merknya masih jarang didengar. bukannya knapa-knapa, tapi kita pikirkan untuk onderdil dan servicenya. Kemudian carilah sepeda yang rangkanya dominan menggunakan bahan aloy. Karena aloy cenderung tidak berkarat, kuat, dan termasuk ringan. Carilah sepeda yang sudah menggunakan rem cakram. Bukan jepit. Karena lebih aman untuk dipakai. Rem pakem banget deh.... Dan sepeda yang sudah mempunyai beberapa gigi. Supaya kalau diajak tanjakkan gak terlalu berat.

Polygon Cleo 3.0
Hari pertama saya bawa keliling Ragunan dan Departemen Pertanian. Karena baru gowes stelah skian lama vacum (ciaelaaaah...) jadi agak grogi. Tapi Alhamdulillah smua berjalan sangat baik. Karena pangendara lain sangat menghargai pengendara sepeda. Misalnya kalau ada kendaraan lain di belakang kita, dia gak asal klakson-klakson mulu, dan lebih memberi kesempatan jalan dulu buat pengendara sepeda. 
Hari kedua saya bawa hanya keliling rumah (karena hujan, jadi gak berminat pegi jauh-jauh). 


Dan hari ketiga saya berniat nge-gowes sampe Senayan. Saya gowes bareng teman lama saat kuliah dulu, namanya Aam, atau sering dipanggil "Ngkoh Am" karena kaya turunan tionghoa, padahal mah asli sunda teh.. ahahaha. Ada 1 orang lagi namanya Mardiy, teman seangkatan dulu pas kuliah juga (walaupun sbenernya gak ada yang 1 jurusan). 1 hari sebelumnya sempat nonton bareng dan bicarain tentang acara nge-gowes ini. Tapi si Mardiy gak mau, katanya Gak ada sepeda. Ada yang berniat baik meminjamkan dia sepeda???? hehehe.. Malahan dia juga bilang, dulu pas dia lagi punya sepeda gak jaman sepedaan, giliran sepedanya sudah dijual langsung marak sepedahan. hihihi kasihan juga ya.... Pissss ah Mardiy  ^o^

Lanjutttt... Selama perjalanan berangkatnya tidak ada kendala yang berarti, kecuali gangguan dari knalpot metromini yang sangat mengganggu! Grrrrr!!!!

Sampailah di daerah Blok M, luruuuusssss terus. Karena eh karena sedang ada Car Free Day, setelah sampe Senayan saya bablasin aja terus ke HI dan akhirnya Monas!! huah mantaaap!!! Gak nyangka bisa sampe monas, hihihi... (Bravooo!! Bravoo!! Bravoo hargonyoooooo!!! Hoalaaah hahahaa)
Gowes di HI
Gowes di MONAS
Pulangnya sudah mulai terasa pegel-pegel. Kayaknya tuh lamaaaaaa banget sampe rumahnya. Mungkin karena sindrom kelelahan. Stiap ketemu tanjakkan kayaknya neraka banget, tapi stiap ktemu turunan surgaaaaaaa banget. hehehee...

Ayo gowes terus.... Sampe di rumah langsung ganti baju, bersih-bersih, dan langsung gelepak di atas kasur. Paha saya terasa panas euy! Ktiduran skitar 1 jam, pas bangun-bangun langsung terasa laaaaappaaaarrrrr banget. Akhirnya sendok nasi yang porsinya lebih banyak dari biasanya dengan ditemani 2 butir telur ceplok. Dan itupun nambah!!! hahahaa.... Bersepeda menjadikan saya makan banyak!! Mantap laahh...



Buat siapa aja yang senang bersepeda, yuk bareng-bareng kita nge-gowes. Dan komunitas bersepeda udah kaya keluarga loh kalau ketemu dijalan selalu saling sapa. 

Bunyikan bel speda mu.. Kring..Kriiinngg.. Gowes teruuusssss......

cursor

Hetalia: Axis Powers - Liechtenstein

tukang tukar ilmu | tukang ngegambar & rubah gambar

Clock

Calendar

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget